William Hill_Baccarat Master_Online betting URL_Online gambling is illegal_Crown Gaming

  • 时间:
  • 浏览:0

SetiIIndonesia Super Quizndonesia SIndonesia Super Quizuper Quizap Indonesia Super QuizKesalahan memang harus dijadikan refleksi untuk memperbaiki diri. Namun, kesalahan di masa lalu tidak mendefinisikan dirimu saat ini. Bukan berarti kamu tidak berhak untuk lebih bahagia lagi. Ingat, apa pun yang kamu lakukan di masa lalu, kamu tetap untuk bahagia dan mendapatkan yang terbaik.

Ada banyak alasan kenapa seseorang memilih bertahan di hubungan, yang bahkan nggak membuat bahagia. Namun, apa pun alasan itu, hubungan yang toxic dan nggak bikin bahagia, buat apa dipertahankan? Melepaskan sebuah hubungan memang susah. Tetapi, mengetahui sebab ingin bertahan mungkin akan membuatnya lebih mudah. Misalnya beberapa sebab berikut ini.

Kelak, kamu harus menjelaskan kepada semua orang mengapa kamu melakukan hal itu. Kamu juga harus menghadapi dogma bahwa usiamu sudah bukan waktunya untuk pilih-pilih lagi. Padahal, setiap keputusan yang kamu ambil, tak harus dijelaskan kepada semua orang. Ini adalah hidupmu. Pernikahan itu adalah pernikahanmu. Kalau tidak bahagia, kamulah yang akan merasakan sakitnya, bukan orang lain.

Akan tetapi, bila memang itu pilihan yang lebih baik, kenapa nggak? Ini sama seperti kamu memasak makanan dan hasilnya gagal. Rasanya nggak karuan, keamanan bahannya pun patut dipertanyakan. Tapi karena kamu malas membuat yang baru, akhirnya makanan itu tetap kamu makan. Padahal bisa jadi makanan itu berbahaya untuk tubuhmu.

Rasa enggan untuk melepaskan hubungan toxic, bisa dipengaruhi oleh rasa rendah diri sendiri. Hal ini bisa terjadi bila kamu merasa pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Kesalahan yang menurutnya, membuatnya merasa nggak sempurna dan nggak layak untuk meminta lebih banyak. Kamu merasa pantas memiliki hubungan yang toxic ini, karena memang hanya itu yang pantas kamu dapatkan.

Kita memang harus lapang dada menghadapi penolakan. Lagipula, penolakan lebih baik ketimbang terombang-ambing oleh rasa. Setidaknya, setelah ditolak, kamu tahu harus melakukan apa. Namun, apa pun itu, penolakan memang menyakitkan. Penolakan bisa meninggalkan luka, yang mungkin nggak terlihat tapi sangat membekas.

Bahagia atau nggak, putus cinta itu momen berat yang mungkin membuat separuh hidupmu terasa macet. Karena bagaimanapun, sebagai kekasihmu, dia menemani hari-harimu selama ini. Bila hubungan dilepaskan, otomatis kamu akan sendiri. Takut akan kesepian itu adalah hal yang wajar. Namun, ini semua hanya perkara penyesuaian.

Hal yang sama terjadi dengan hubungan. Kamu sudah terbiasa dengan kehadirannya. Dengan sikap pemarah-lalu minta maafnya. Karakternya yang selalu mendikte dan merasa paling benar, tanpa sadar membuatmu jadi terbiasa hanya “ngikut saja” apa katanya dan berhenti memutuskan sendiri. Ketika dia tidak ada, kamu jadi bingung apa yang harus dilakukan. Ketergantungan inilah yang membuat seseorang enggan beranjak dari zona nyaman.

Terkadang kita bisa merasa nyaman dengan sesuatu yang sebenarnya nggak baik untuk diri sendiri. Contoh paling gampangnya sih, tentang kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan sehari-hari. Malas olahraga, makan junkfood, dan terlalu lama berselancar di media sosial. Itu nyaman dan mungkin asyik dilakukan, padahal efeknya bisa buruk untuk diri sendiri.

Memang akan ada saatnya hidupmu terasa begitu sepi. Sementara hari-hari sebelumnya yang diisi dengan teleponan, chattingan, kencan di akhir pekan, kini mendadak sepi. Ponselmu nggak banyak berbunyi, akhir pekan pun bingung harus ngapain. Masa transisi ini sulit dilewati, tapi lama-lama kamu akan terbiasa, bukan?

Sebuah hubungan asmara kalau sudah toxic, bukan hanya nggak membuat bahagia. Melainkan juga membawa pengaruh buruk yang merugikan diri sendiri. Namun anehnya, banyak yang memilih untuk tetap bertahan di hubungan yang toxic ini padahal jelas-jelas lebih banyak sakit hatinya dibanding bahagianya. Kira-kira kenapa, ya?

Nggak ada orang yang layak untuk berada di hubungan yang lebih banyak menyiksanya dibanding membahagiakannya. Pun, semua orang berhak bahagia dan menemukan orang yang tepat. Termasuk kamu. Jika hubunganmu dengannya memang sudah nggak bisa diharapkan dan lebih banyak merugikan, kenapa harus dipertahankan? Sakit memang, tapi kelak kamu akan berterima kasih atas keberanianmu ini.

Penolakan-penolakan yang dialami sebelumnya turut menyumbang alasan mengapa seseorang enggan melepaskan hubungan. Kehadiran pasangan saat ini menjadi hal yang sangat disyukuri, karena “diterima” itu menyenangkan sekali. Mengakhirinya dan mencari orang yang baru, membuka kemungkinan untuk ditolak lagi. Namun, bukankah penolakan seseorang bukan akhir dunia? Ditolak seseorang, bukan berarti kamu nggak layak untuk semua orang.

Alasan inilah yang paling sering terjadi. Hidup di budaya timur yang menjadikan pernikahan sebagai salah satu tolok ukur kebahagiaan, memaksa seseorang begitu terikat dengan usia. Ketika usia sudah memasuki usia-usia pernikahan, dorongan dan tuntutan dari keluarga semakin besar, mengakhiri hubungan yang dirasa kurang membahagiakan adalah keputusan yang sulit.

Bila kamu sudah melepaskan hubungan yang toxic ini, tentu kamu ingin mendapatkan pengganti yang lebih baik. Proses yang harus dilalui inilah yang membuatmu berpikir dua kali untuk melepaskan apa yang kamu miliki saat ini. Karena kamu harus kenalan lagi, PDKT lagi, belajar saling memahami lagi, menjajaki kecocokan lagi. Semua itu butuh energi dan waktu karena kamu harus mulai dari nol lagi.